Money

Harga Kedelai di Jakarta Naik, Masyarakat Diminta Sesuaikan Kebutuhan

Jakarta (KABARIN) - Harga kedelai di Jakarta tengah mengalami kenaikan dan belum menunjukkan tanda stabil. Menyikapi kondisi ini, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk mulai menyesuaikan kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa sebagian besar pasokan kedelai di ibu kota masih bergantung pada impor.

“Sebagian kecil merupakan pasokan daerah produsen seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat,” kata Hasudungan di Jakarta, Kamis.

Kedelai sendiri merupakan bahan utama untuk produksi tahu dan tempe, yang banyak diolah oleh pengrajin di bawah PUSKOPTI DKI Jakarta serta tergabung dalam GAKOPTINDO. Artinya, kenaikan harga ini bisa berdampak langsung ke harga makanan sehari-hari yang sering kamu konsumsi.

Menurut Hasudungan, lonjakan harga kedelai dipicu oleh faktor global, terutama kondisi di Amerika Serikat sebagai salah satu eksportir utama kedelai dunia, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan pantauan tim di lapangan, kenaikan harga kedelai sudah mulai terasa sejak bulan Ramadhan pada Februari 2026. Hingga sekarang, harganya masih berfluktuasi.

Untuk mengurangi dampak dari kondisi ini, masyarakat diminta mulai lebih fleksibel dalam memilih bahan pangan.

“Untuk meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai dengan mengimbau masyarakat agar menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangannya dengan komoditas pangan lainnya yang memiliki nilai gizi yang seimbang namun dengan harga yang lebih terjangkau (diversifikasi pangan),” kata Hasudungan.

Selain itu, ia juga menyarankan masyarakat untuk mulai memanfaatkan urban farming atau bercocok tanam di rumah sebagai alternatif menjaga ketahanan pangan keluarga.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kebutuhan pangan tetap terpenuhi tanpa terlalu terbebani oleh kenaikan harga kedelai di pasaran.

Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: